Tips mencegah tantrum pada anak

Banner Before Content
Banner Before Article Inner Content

Tantrum pada anak bisa terjadi kapan saja dan dimana saja. Disekolah, di tempat bermain bahkan di rumah. Ketika anak mengalami tantrum, ia akan berteriak sekerasnya, meronta-ronta, menangis, memukul dan menendang-nendang. Jika hal ini terjadi di tempat umum, perhatian dari orang lain hanya akan menambah kekacauan.

Sebenarnya apa itu tantrum dan apa yang menyebabkan seorang anak mengalami tantrum?

Anak kecil belum bisa mengatur perasaannya, dan belum terlalu pandai mengutarakan isi hatinya, mengkomunikasikan kesedihan, kemarahan dan kekecewaannya. Maka tantrum adalah cara yang lazim digunakan seorang anak yang menginginkan sesuatu namun tidak dapat mengutarakan keinginannya tersebut. Kendati lazim, tantrum bukan berarti tidak dapat dihindari. Berikut adalah beberapa cara membaca gejalanya dan mengatasi tantrum pada anak.

Cara mencegah tantrum pada anak

1. Perhatikan kebutuhan dasar

Anak mudah sekali berubah moodnya ketika ia haus, lapar, terlalu letih atau terlalu excited. Hal-hal ini umumnya menjadi penyebab tantrum pada anak. Sediakan snack, atau setidaknya air minum jika berpergian bersama anak. Jika berpergian jauh, perhatikan jika anak mulai lelah.

2. Jangan tiba-tiba

Jika anak sedang asik bermain di taman sekolah, atau bersama teman-temannya, jangan langsung mengatakan “yuk, kita pulang”. Bisa ditebak respon anak terhadap kalimat yang tiba-tiba itu. Lebih baik mengatakan pada anak, “5 menit lagi kita akan pulang yah, siap-siap pakai sepatu yah sebentar lagi”, bandingan perbedaan respon anak.

3. Perhatian orang tua

Apakah anak anda tantrum hanya untuk mendapatkan perhatian? Jika ini kasusnya, luangkan waktu lebih banyak lagi bersama anak anda. Tapi jangan jadikan tantrum sebagai kebiasaannya mendapat perhatian anda. Jika ia berbuat baik, berilah penghargaan yang lebih, tunjukkan bahwa perbuatan baiknya mendapat perhatian lebih dari anda, daripada tantrum.

4. Rutinitas

Rutinitas keluarga membangun stabilitas emosi dan rasa aman. Lakukan rutinitas waktu makan, tidur, belajar dan bermain.

5. Perkenalkan jenis-jenis emosi

Ajari anak bermacam emosi dan namanya. Jika ia berteriak pada temannya, daripada bertanya kenapa ia berteriak, katakan pada anak, “Kamu tidak suka si Budi teriak sama kamu? Apakah kamu marah? Kalau marah kamu bilang ya..” Anak akan belajar mengasosiasikan perasaannya dengan kata marah dan yang lainnya.

6. Beri pilihan

Beri anak pilihan yang jelas, bukan pilihan bebas. Misalnya, jika di hari libur ia meminta pergi, beri pilihan ke taman atau ke pantai. Memakai sepatu, yang biru atau yang coklat. Namun untuk hal yang sifatnya keselamatan, tegaskan bahwa keputusan orang tua tidak dapat dinegosiasi (seperti memasang sabuk pengaman). Memberi pilihan juga mengajarkan anak tentang tanggung jawab dan resiko akan pilihannya.

Apakah anda mempunyai tips lain untuk mencegah tantrum pada anak? Bagikan di kolom komentar ya.

sumber

Banner After Article Inner Content
Banner After Content

CONTACT US

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

or

Log in with your credentials

or    

Forgot your details?

or

Create Account